Film Sultan Agung, Tetap Menarik Kendati Menuai Kritik Pedas

Film Sultan Agung, Tetap Menarik Kendati Menuai Kritik Pedas

Kendati menuai kritik tajam dan pedas oleh banyak kalangan, toh film Sultan Agung tetap menarik untuk ditonton. Beberapa kaum peneliti sejarah menganggap film kerajaan yang terpopuler ini menyesatkan karena kurangnya akurasi penggambaran karakter. Menyikapi komentar tersebut, sang sutradara kondang yang menggarap film Sultan Agung, Hanung Bramantyo menanggapi balik dengan santai.

Ia berkelakar, “Saya mengakui film Sultan Agung masih banyak kekurangan terhadap akurasi para tokoh. Maka dari itu, saya harap masyarakat tidak menjadikan film ini sebagai sumber sejarah,” paparnya. Setali tiga uang dengan pernyataan Hanung, film kolosal ini lebih menonjolkan sisi drama seperti cerita pada umumnya. Makanya jangan bingung, kan sudah ditulis dengan huruf besar bahwasannya tema yang diangkat adalah tentang tahta, perjuangan, serta cinta.

Film Sultan Agung, Tetap Menarik Kendati Menuai Kritik Pedas

Pertama kali jadwal tayang perdana film ini dibeberkan pada 2018, respon publik sama sekali tidak menggairahkan. Maklum lah, demam superhero sedang melanda seluruh dunia tak terkecuali Indonesia ktia tercinta. Serial Avengers beranggotakan Iron Man dan kawan-kawan sukses menyedot perhatian para pencinta bioskop tanah air.

Langkah Hanung Bramantyo menayangkan Sultan Agung berdekatan dengan premiere film tema pahlawan super dinilai cukup berani dan nekat. Lagipula tanpa tekanan dari Hollywood pun, ia harus siap bertarung head to head dengan film lokal bergenre umum. Sebut saja misalnya seperti horror sensual dan kisah romantis anak remaja. Jujur saja, generasi milenial tidak terbiasa menikmati budaya sejarah dalam negeri, apalagi melirik drama kolosal. Setuju, nggak?

Meremehkan Film Sultan Agung Adalah Salah Besar

Sayang sekali, kami harus bilang bahwa kalian semua salah besar jika meremehkan film Sultan Agung. Keseruan yang ditawarkan Hanung bahkan sudah mulai terasa sejak lima menit pertama durasi penayangan. Teknik pengambilan gambar begitu dinamis dan sarat estetika, sementara akting para pemain pun ikut mendukung intensitas cerita. Kalau masih gak percaya, silahkan tonton dan buktikan sendiri betapa memukaunya cara tokoh Lembayung muncul memperkenalkan diri. Nanti akan kita kupas lebih jauh tentang doi, makanya stay tune terus ya guys!

Meremehkan Film Sultan Agung Adalah Salah Besar

Pada awal cerita, mengisahkan kehidupan seorang bangsawan bergelar Raden Mas Rangsang seputar kesehariannya belajar ke perkumpulan milik Ki Jejer. Gelar kebesaran tersebut adalah milik Sultan Agung yang kita kenal melalui buku sejarah selama ini. Untuk pertama kalinya, Raden Mas Rangsang beradu pandang dengan gadis muda belia yaitu Lembayung. Namun karena satu dan lain hal, Lembayung meninggalkan perkumpulan tanpa sebab yang jelas.

Sementara itu RM Rangsang belum sempat menikmati masa mudanya, tiba-tiba ia naik tahta menjadi raja atas kerajaan Mataram. Cepat atau lambat RM Rangsang pasti akan menduduki kursi kepemimpinan Mataram, sebab ia merupakan seorang pewaris tunggal dari sang Raja. Betapa berat beban pada pundaknya, karena harus bertanggung jawab mengelola pemerintahan dari usia belum matang.

Film Bertaburan Bintang Papan Atas

Sepertinya darah biru bangsawan mengalir pekat dalam tubuh RM Rangsang. Sebagai seorang sultan muda, ia cukup piawai dan cerdas memimpin sehingga meraih segudang prestasi. Dengan gagah berani, Sultan Agung muda mengordinir pasukan andalannya untuk menggempur benteng VOC milik Belanda di Jayakarta. Sekilas kalian bisa saja merasa bosan membaca narasi cerita yang begitu identik dengan buku pelajaran sejarah di sekolah.

Film Bertaburan Bintang Papan Atas

Tunggu dulu, apabila sudah menontonnya kalian akan kaget karena film ini bertaburan bintang aktor serta aktris kondang papan atas. Ario Bayu dipercaya memainkan peran utama sebagai Sultan Agung oleh sebab akting kharismatiknya.

Lalu masih ada Meriam Belina (Gusti Ratu Tulung Ayu), Christine Hakim (Gusti Ratu Banowati), serta Adinia Wirasti (Lembayung). Aktor senior lainnya seperti Lukman Sardi pun turut memeriahkan cerita dengan berperan sebagai paman Sultan Agung. Tak ketinggalan artis muda pendatang pun memenuhi layar lebar seperti Asmara Abigail dan Anindya Putri.

Jika kita perhatikan lebih detail, riasan wajah para pemain terasa begitu alami sehingga sangat sesuai menggambarkan potret kehidupan abad 16. Wajar sih, soalnya produser film ini dipegang langsung oleh keturunan asli Sultan Agung. Beliau adalah BRA.

Mooryati Soedibyo, yaitu juga merupakan CEO dari perusahaan kosmetik ternama dalam negeri Mustika Ratu Group. Belum lagi teknik penggunaan sinematik kamera serta scoring musiknya terbilang sukses menghidupkan segala suasana pada tiap adegan. Penasaran? Pastikan kalian menontonnya secara legal di website resmi ya!